menu menu

Gitex Africa Digital Summit berakhir pada tahun 2024

Dalam sebuah acara yang menandakan berkembangnya potensi industri teknologi di Afrika, Gitex Africa baru-baru ini menyelesaikan edisi keduanya di Maroko, yang menarik para inovator, pengusaha, dan penggemar teknologi dari seluruh dunia.

Diadakan di Marrakesh, Gitex Afrika mempertemukan lebih dari 1,500 peserta pameran dan startup, serta ribuan pengunjung dari lebih dari 130 negara. Acara ini mempertemukan ide, inovasi, dan kemitraan yang bertujuan memanfaatkan teknologi untuk mengatasi tantangan dan peluang unik di Afrika.

Pameran ini menampilkan beragam sektor, mulai dari fintech dan agritech hingga edtech dan healthtech, menyoroti banyaknya penerapan teknologi dalam mendorong pembangunan sosio-ekonomi.

Pembicara utama mencakup tokoh-tokoh berpengaruh dari industri teknologi, pejabat pemerintah, dan pemimpin pemikiran yang menyatakan pentingnya transformasi digital dalam mencapai pertumbuhan berkelanjutan.

Salah satu tema sentral Gitex Afrika adalah memberdayakan kaum muda di benua itu. Menurut UN, Afrika merupakan rumah bagi populasi termuda di dunia, dengan lebih dari 60% penduduknya berusia di bawah 25 tahun. Demografi ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang.

Gitex Africa berupaya memanfaatkan potensi ini dengan menyediakan platform bagi wirausahawan dan inovator muda untuk menampilkan solusi mereka dan terhubung dengan investor dan mentor. Menurut Gitex Africa, PDB kawasan ini diperkirakan akan mencapai $4 triliun pada tahun 2027.

Acara ini menyelenggarakan berbagai lokakarya, hackathon, dan kompetisi pitch yang dirancang untuk menumbuhkan kreativitas dan semangat kewirausahaan di kalangan anak muda Afrika. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya menyoroti kecerdikan kaum muda Afrika namun juga memberikan dukungan praktis dan sumber daya untuk membantu mengubah ide-ide mereka menjadi bisnis yang layak.

Dari perusahaan rintisan (startup) yang inovatif hingga raksasa teknologi yang sudah mapan, Gitex Africa menyoroti kehebatan inovatif benua ini. Peserta pameran memamerkan solusi mutakhir yang disesuaikan dengan konteks Afrika, seperti aplikasi perbankan seluler untuk mereka yang tidak memiliki rekening bank, teknologi pertanian presisi untuk petani kecil, dan platform e-learning untuk menjembatani kesenjangan pendidikan.

Salah satu peserta pameran yang menonjol adalah startup fintech Nigeria, Cleva yang telah mengembangkan solusi berbasis blockchain untuk menyederhanakan pengiriman uang, mengurangi biaya secara signifikan dan meningkatkan kecepatan transaksi.

Sorotan lainnya adalah perusahaan agritech Kenya yang menggunakan teknologi drone dan AI untuk mengoptimalkan pengelolaan tanaman, sehingga meningkatkan hasil panen dan mendukung ketahanan pangan.

KTT digital menekankan pentingnya kolaborasi dalam mendorong kemajuan teknologi. Acara ini memfasilitasi berbagai peluang jaringan, memungkinkan para peserta untuk menjalin kemitraan strategis, berbagi pengetahuan, dan mengeksplorasi kolaborasi lintas batas.

Perwakilan pemerintah membahas kebijakan dan inisiatif yang bertujuan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi inovasi teknologi, sementara investor internasional menyatakan minatnya untuk mendanai startup di Afrika.

Saat Gitex Africa selesai, rasa optimisme dan kegembiraan terlihat jelas. Acara ini tidak hanya menunjukkan kemampuan teknologi Afrika yang berkembang namun juga menunjukkan peran penting generasi muda dalam membentuk masa depan benua tersebut.

Melalui pengembangan inovasi, kewirausahaan, dan kolaborasi, Gitex Afrika terus menyiapkan panggung bagi kebangkitan digital yang menjanjikan transformasi lanskap sosio-ekonomi Afrika.

Aksesibilitas