menu menu

Penggunaan AI yang dirahasiakan oleh Netflix memicu perdebatan mengenai manipulasi media

Netflix mendapat kecaman karena memasukkan citra AI yang dirahasiakan dalam film dokumenter kriminal terbaru. Reaksi balik tersebut telah memicu perbincangan penting seputar manipulasi media. 

Suka, takut, atau benci, AI kini menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Dari pendidikan hingga hiburan, kecerdasan buatan akan terus berkembang, membentuk hampir setiap aspek interaksi kita dengan media.

Namun perubahan ini membutuhkan batasan. Ketidakpastian AI dan pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya menjadikannya alat yang berbahaya jika tidak digunakan dengan hati-hati. Dan dalam beberapa hari terakhir, dua perusahaan media besar mendapat kecaman karena gagal melakukan hal tersebut.

Hanya beberapa hari setelah studio A24 menghadapi kritik karena penggunaannya poster AI untuk mempromosikan film baru 'Civil War', Netflix telah memulai perdebatan sengit tentang penggunaan kecerdasan buatan di TV dan film, terutama ketika pemirsa tidak menyadarinya.

Layanan streaming tersebut diketahui telah menggunakan citra AI dari terpidana pembunuh Jennifer Han, sebagai bagian dari film dokumenter kriminal baru mereka 'What Jennifer Did.' Film ini mengikuti polisi saat mereka menyelidiki pembunuhan brutal ibu Han dan percobaan pembunuhan ayahnya, awalnya percaya Jennifer sebagai saksi yang tidak bersalah.

Dia akhirnya mengaku mengatur pembunuhan terhadap orang tuanya dalam upaya untuk mewarisi uang mereka.

Sekitar 28 menit setelah film diputar, teman SMA Pan, Nam Nguyen, mendeskripsikannya sebagai 'orang yang asyik diajak bicara'.

'Jennifer, Anda tahu, adalah orang yang ceria, bahagia, percaya diri, dan sangat tulus,' jelasnya, ketika tiga gambar Pan muncul di layar.

Foto-foto tersebut kini menjadi sorotan karena objek di latar belakang tampak terdistorsi, serta detail di tangan, telinga, dan rambut Jennifer.

Pemirsa menuduh Netflix menggunakan AI untuk memanipulasi mereka, menampilkan gagasan palsu tentang Jennifer Han yang akan menambah klimaks dramatis film tersebut.

'Menggunakan AI untuk memanipulasi pemirsa selama konten nonfiksi jelas merupakan tindakan jahat,' kata salah satu dari mereka Pengguna Instagram. Konsensus yang sangat besar di kalangan penonton Netflix selama ini bersifat negatif, dan banyak yang menyoroti ironi penggunaan informasi palsu dalam sebuah film tentang mengungkap 'kebenaran'.

Meskipun Netflix belum mengomentari reaksi negatif tersebut, keputusan untuk menggunakan gambar yang dihasilkan AI tanpa pengungkapan menimbulkan pertanyaan etika yang serius mengenai tanggung jawab pembuat konten.

Dengan menampilkan gambar yang dihasilkan AI sebagai sesuatu yang nyata, pembuat konten berisiko memutarbalikkan kebenaran dan melanggengkan informasi yang salah. Dalam kasus 'What Jennifer Did', pemirsa mungkin telah membentuk persepsi yang tidak akurat tentang Jennifer Han berdasarkan visual palsu yang disajikan dalam film dokumenter tersebut.

Manipulasi visual melalui AI juga menimbulkan kekhawatiran akan terkikisnya kepercayaan terhadap media. Ketika pemirsa tidak dapat lagi membedakan antara gambar nyata dan buatan, kredibilitas media mainstream menjadi dipertanyakan. Kepercayaan adalah fondasi jurnalisme dan pembuatan film, dan insiden seperti ini hanya akan melemahkannya.

Beberapa pengguna internet berpendapat bahwa kebangkitan AI dalam budaya populer, khususnya kemunculannya yang dirahasiakan dalam konten dokumenter, menandakan berakhirnya Era Informasi.

Meskipun undang-undang saat ini sudah ada untuk mengatur penggunaan AI di AS dan Eropa, saat ini sudah ada undang-undang yang mengaturnya tidak ada undang-undang khusus mengatur penggunaan gambar atau video AI dalam film dokumenter atau konten lainnya.

Penggunaan AI yang tidak terkendali juga mempunyai kapasitas untuk berdampak pada mereka yang bekerja di industri ini. Seiring dengan kemajuan teknologi kecerdasan buatan, terdapat ketakutan yang semakin besar bahwa peran tradisional dalam pembuatan film, seperti penata rias dan spesialis efek visual, akan menjadi ketinggalan jaman.

Dan jika citra yang dihasilkan oleh AI menjadi sebuah hal yang biasa, hal ini dapat mempunyai implikasi yang besar terhadap masa depan lapangan kerja di media hiburan.

Ketika perusahaan gagal memberi tahu audiens mereka bahwa AI hadir dalam konten, kapasitas audiens untuk membedakan mana yang asli dan mana yang palsu akan menurun. Dengan demikian, validitas AI sebagai alat hiburan tertanam di benak para pembuat konten.

Produser dan perusahaan media mempunyai tanggung jawab untuk mengungkapkan penggunaan gambar buatan dan memastikan bahwa pemirsa mengetahui segala manipulasi atau perubahan yang dilakukan pada gambar tersebut. Transparansi menumbuhkan kepercayaan dan akuntabilitas, yang merupakan elemen penting dalam menjaga integritas konten yang kita konsumsi setiap hari.

Aksesibilitas